cepat hamil

Rabu, 13 Maret 2013

Kisah Inspiratif : PENGORBANAN SEORANG ADIK ...



 Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.

Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi.

Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? …

Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”. Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. 

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. 

Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten.

Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” 

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. 

Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” 

Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”. Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku.

Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.” Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. 

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.”Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu.

Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. 

Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. 

Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu.

Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Bahkan tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. 

Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. 

Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. (kiriman sahabat)

Kamis, 28 Februari 2013

KISAH INSPIRATIF : Bocah Zhang yang Menginspirasi Banyak Orang

KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos Zhang Da Menginspirasi Banyak Orang

Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.

Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.

Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.

Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.

Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan. Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.

Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda.

Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. "Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab," katanya.

Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus. Pembawa acara menanyainya lagi. "Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" papar pembawa acara.

Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. "Sebut saja!" katanya menegaskan.

Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da. "Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!" kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.

Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai.

Pelajaran moral yang tampak sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?

Senin, 26 November 2012

Kisah Inspiratif : KESETIAAN SEORANG ISTRI, 17 TAHUN MENGGENDONG SUAMI

Seorang istri berjuang membantu suaminya seorang guru yang lumpuh dengan cara menggendong menuju tempat mengajar selama lebih dari 17 tahun Du Chanyun adalah seorang guru di kampung Dakou kota Liushan, tepatnya di pedalaman pegunungan Tuniu. Chanyun adalah tumpuan harapan dari 500 KK yang tersebar di kampung Dakou.

Tahun 1981, setelah lulus SMA, ketika itu usianya 19 tahun, Chanyun memutuskan menjadi seorang guru SD di kampung Dakou. Pria asal kampung Nancao, Provinsi Henan ini adalah seorang guru yang gigih. Selama sepuluh tahun, setiap bulan dia hanya memperoleh gaji guru sebesar 6.5 Yuan Renmibi (sekitar Rp. 7.000).

Suatu hari, di tahun 1990, bencana datang menimpanya. Saat itu adalah musim panas. Hujan badai membasahi ruangan kelas sekolahnya. Biasanya, di liburan musim panas, orang-orang di kampung itu mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah, Du Chanyun begitu bersemangat bekerja, kehujanan pun tetap kerja memindahkan batu, seluruh badan basah kuyup.


Akhirnya pada suatu hari, dia jatuh sakit, sakit berat karena kehujanan dan capek. Sayangnya, setelah sembuh ia mendapatkan tubuhnya dia sudah tidak mampu dibuat berdiri lagi. Tubuh sisi kirinya tidak dapat digerakkan. Meski begitu, ia khawatir, mengajar akan menjadi sebuah mimpi yang jauh baginya.

Istrinya, Li Zhengjie merasakan isi hati sang suami. Untuk menentramkannya, Li mengatakan, “Kamu jangan kuatir, kamu tidak bisa jalan, sampai panggung pun saya akan menggendongmu,” demikian ujar wanita dari kampung yang buta huruf ini.

Menopang Suami
Tak urung, Li memikul tanggung jawab keluarga. Setiap hari, ia harus menggendong suaminya menjadi seorang guru dari rumah sampai sekolah yang jaraknya 6 mil. Sejak 1 September 1990, jadwal hidup Li seperti ini. Setiap hari mulai pagi-pagi, Li Zhengjie bangun menanak nasi, membangunkan 4 anggota keluarganya dan menyiapkan mereka makanan. Setelah makan, ia harus menggendong suaminya berangkat mengajar.

Di sepanjang jalan, Li meraba, merangkak jatuh bangun sampai tiba di sekolah. Di sekolah, Li menempatkan suaminya di kursi lalu menitip pesan ke beberapa murid yang agak besar lantas bergesa-gesa pulang. Maklum, di rumah masih ada sawah yang menunggunya untuk dikerjakan. Sejak memikul tanggung jawab mengendong suaminya, ada dua hal yang paling dia takuti adalah musim panas dan musim dingin.

Rumah Du Chanyun berada pada Barat Selatan sekolah, walaupun jarak dari rumahnya ke sekolah hanya 3 mil, namun tidak ada jalan lain, selain dari jalan tikus, dengan batu-batuan yang berserakan, ranting-ranting pohon, sungai kecil.

Hampir Terpeleset ke Sungai
Pada suatu hari di musim panas, saat itu, baru saja turun hujan lebat, Li Zhengjie seperti hari biasa menggendong suaminya berangkat. Air sungai saat itu melimpah menutup batu injakkan kakinya. Li Zhengjie sudah hati-hati meraba-raba batu pijakan, namun tidak disangka ia tergelincir. Arus sungai yang deras menghanyutkan mereka sampai 10 meter lebih.

Untung tertahan oleh ranting pohon yang melintang di hulu sungai. Setelah lebih kurang setengah jam, ayahnya yang merasa khawatir akhirnya datang mencari, mereka ditarik, anak dan menantunya baru berhasil diselamatkan. Li lolos dari ancaman maut.

Dalam beberapa tahun ini, Li Zhengjie terus menggendong suaminya. Entah sudah berapa kali ia jatuh bangun. Pernah suaminya jatuh di posisi bawah. Kadang-kadang Li Zhengjie jatuh di posisi bawah. Suatu hari Li Zhengjie punya akal, setiap jatuh dia berusaha duluan menjatuhkan tubuhnya yang kekar menahan batu yang mengganjal. Li Zhengjie telah berjuang membantu suaminya siang dan malam. Ia bekerja keras dan capek. Sang suami, melihat dengan jelas perjuangan istrinya itu. Hati Du Chanyun merasa iba.

Sang Suami Menggugat Cerai
Pada tahun 1993, Du Chanyun memulai rencana buruk agar sang istri meninggalkannya.Ia tak ingin sang istri menderita. Untuk mencapai tujuan ini, dia mengubah karakternya, sengaja ia mencari gara-gara untuk bertengkar. Du Chanyun, mulai memakinya. Tentu saja Li Zhengjie merasa tertekan. Setelah 2 kali ribut besar, mereka sungguh-sungguh akan bercerai.

Di hari perceraian yang ditunggu, Li Zhengjie menggendong suaminya naik sepeda. Ia sangat berhati-hati mendorong suaminya ke kelurahan setempat. Semua orang sangat mengenal sepasang suami-istri yang dikenal akrab ini. Begitu melihat tampang keduanya, semua orang makin gembira.

“Saya tidak pernah melihat wanita menggendong suaminya ke lurah minta cerai, kalian pulang saja,” ujar pihak kelurahan. Setelah keributan minta perceraian tenang kembali, Li Zhengjie hanya mengucapkan sepatah kata pada suaminya.

“Walaupun nanti kamu tidak bisa bangun lagi, saya juga akan menggendong kamu sampai tua.”

Tidak Pernah Sekalipun Bolos Mengajar
Kondisi di sekolah tempat Du Chanyun mengajar sangat parah. Meski demikian, kedua pasang suami istri bisa memberikan pendidikan yang baik buat anak-anak. Di sekolah itu, pendidikan sangat kurang baik. Tidak ada alat musik dan tidak ada poliklinik. Namun Du Guangyun menggunakan daun membuat irama musik buat anak-anak. Li Zhengjie naik ke gunung mencari obat ramuan, pada musim panas dia memasak obat pendingin buat anak-anak, pada musim dingin masak obat anti flu buat anak-anak.

Di bawah bantuan istri, dalam 17 tahun, hari demi hari, tidak terhalangi oleh angin hujan, tidak pernah bolos satu kali pun. Suatu hal yang menggembirakan, data yang terkumpul dari kepala sekolah tentang hasil ujian negeri bulan April, tingkat siswa yang lulus dari sekolah SD tersebut mencapai 100 %. Tahun lalu ketika ujian masuk perguruan tinggi, ada 4 orang siswa yang dulu pernah diajari dia masuk ke perguruan tinggi, tahun ini ada 4 lagi yang lulus masuk masuk spesialis.

Kini, setiap hari raya Imlek, murid-muridnya sengaja pulang ke kampung menjenguk bapak dan ibu gurunya, masalah tersebut menjadi peristiwa yang sangat menggembirakan bagi sepasang suami istri guru ini. 


Selasa, 06 November 2012

WANITA PEMESAN NERAKA



Seorang kolumnis majalah Al-Manar di Mesir pada tahun 2002, mengisahkan. Dalam sebuah perjalanan, sekitar 300 Km antara kairo-alexandria, disaat cuaca yg panas disebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat karena pakaiannya yg san

gat minim dan karena menentang kesopanan. ia duduk di ujung kursi dekat pintu keluar.

Tentu saja dg pakaian seperti itu mengundang perhatian kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial. Seorang bapak setengah baya yg kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian seperti itu bisa mengakibatkan sesuatu yg tidak baik bagi dirinya, disamping pakaian seperti itu juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan.

Tahukah anda apa respon perempuan muda tersebut? Dengan ketersinggungan yg sangat, ia mengekspresikan kemarahannya. karena merasa privasinya terusik. hak pakaian menurutnya hak perogratif seseorang.

"Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya tempat di neraka Tuhan anda!!". sebuah respon yg sangat frontal, dan sang bapak pun hanya beristighfar. ia terus menggumamkan kalimat2 ALLAH.

Detik2 berikutnya suasana pun hening. beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelapdalam mimpinya. tak terkecuali perempuan muda itu. hingga sampailah perjalanan diujung tujuan. di terminal terakhir mikrobus alexandria, semua penumpang siap2 untuk turun. Tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yg masih terlihat tidur. ia berada di dekat pintu keluar. "Bangunkan saja!" begitu kira-kira permintaan para penumpang.

Tahukah apa yg terjadi. perempuan muda tersebut benar2 tidak bangun lagi. ia menemui ajalnya sebagaimana permintaannya. dan seisi mikrobus tersebut terus beristighfar, menggumamkan kalimat ALLAH.

Sebuah akhir yg menakutkan. mati dalam keadaan menentang ALLAH. seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya, seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir tiap saat, seandainya tiap orang takut bertemu dg Tuhannya dalam keadaan yg buruk, seandainya tiap orang tahu kemurkaan ALLAH, sungguh ALLAH masih menyayangi kita yg masih terus dibimbing-NYA. ALLAH akan semakin mendekatkan orang2 yg terus-menerus mendekat kepada-NYA. (Dahsyatnya sabar, 2010)

Rabu, 31 Oktober 2012

THREE TIMES A LADY - MARIO TEGUH GOLDEN WAYS

Lagu Tema: Three Times A Lady – Lionel Richie
Teman-teman kali ini saya copas statusnya mario teguh ya,bagus banget buat menginspirasi wanita agar makin disayang oleh pasangan......


SEGMENT SATU

Katakanlah kepada wanita Anda:
Seorang wanita adalah sebuah kesatuan yang indah dari tiga peran penting dalam kebersamaan dengan pria-nya.

Yang pertama, dia sebagai kekasih.
Yang kedua, dia sebagai sahabat.
Yang ketiga, dia sebagai ibu.

Ketertarikan yang menggila pada saat-saat pertama cinta ditemukan, memang mudah untuk membuat dua pribadi yang sangat berbeda untuk menjadi satu dan memutuskan untuk bersama-sama sepanjang hidup. Hanya saja, panjangnya hidup yang dilihat oleh mata yang sedang terkaburkan oleh cinta, bisa jadi sangat pendek.

Itu sebabnya cinta saja tidak cukup. Cinta harus menjadi landasan dari sebuah kebersamaan, yang tidak mungkin menjadi keseluruhan strukturnya.

Ada banyak hal yang harus dibangun dengan logika yang jernih untuk menjadikan sesuatu yang dimulai dengan emosional ini – sebuah kebersamaan yang membahagiakan.

Mudah-mudahan cinta yang lembut dan setia itu menjadi warna dari kehidupan Anda, segera dan bertahan selamanya.





SEGMENT DUA

1. Seorang wanita, yg  pertama, harus menjadi seorang kekasih.

Mungkin karena mengikuti sebuah seminar yang salah, tidak sedikit wanita yang tidak lagi berupaya menjadikan dirinya obyek ketertarikan fisik dari pria-nya, segera setelah mereka menikah.

Entah siapa yang mengajarinya untuk menjadi wanita yang tidak lagi menggetarkan jantung pria-nya saat tenunan-tenunan bena
 ng itu meninggalkan kulitnya.

Atau menjadikannya wanita dengan suara tawa, teriakan, dan umpatan yang biasanya dilakukan oleh pria-pria tidak terdidik. Atau, menjadikan dirinya lebih perkasa daripada pria-nya, untuk menyiapkan dirinya bagi pertarungan yang harus dimenangkannya atas prianya, suatu ketika nanti.

Jika Anda ingin pria Anda mengendap-endap, meliuk-liuk, dan menggeram rendah dan dalam saat dia merangkak mendekati Anda, dengan sinar mata yang mengharuskan Anda untuk gemetar karena lebih mengharapkan daripada menolak; maka jadikanlah diri Anda seorang kekasih yang pertemuan dengannya membuat pria Anda bersedia meninggalkan apa pun.

Mudah-mudahan Anda disandingkan dengan belahan jiwa yang menjadi sahabat kehidupan Anda yang mesra dan setia sepanjang hidup Anda berdua yang panjang dan sehat.



2. Seorang wanita, yang kedua, harus menjadi seorang sahabat.

Sebuah kebersamaan yang tidak dibangun atas sebuah persahabatan, akan menjadi sebuah istana pasir yang menunggu air pasang naik. Dua sahabat, disebut sahabat, karena mereka menikmati kebersamaan dengan satu sama lain.

Mereka menikmati yang mereka lakukan bersama. Mereka tidak harus menyenangi hal-hal yang sama
, tetapi mereka selalu menemukan cara-cara yang menyenangkan dalam menikmati waktu mereka.

Mereka menjadi penguat bagi satu sama lain; tidak menilai buruk satu sama lain, melihat kebaikan dari satu sama lain, mengupayakan kebaikan bagi satu sama lain.

Seperti unsur kimia yang bereaksi dan berubah karena dicampurkan - Anda dan pria Anda harus berubah menjadi pribadi-pribadi baru, yang kebersamaannya justru memperkuat kebersamaan Anda.

Bukan tidak cukupnya kasih sayang, yang membuat sebuah kebersamaan itu tidak membahagiakan - tetapi tidak cukupnya persahabatan.


Mudah-mudahan belahan jiwa Anda adalah sahabat yang Anda nikahi, atau yang Anda nikahi menjadi sahabat terbaik dalam kehidupan Anda.



3.  Seorang wanita, yang  ke-tiga, harus menjadi seorang ibu.
Ada wanita yang berhasil membangun karir yang cemerlang, lalu menolak menjadi seorang ibu, karena menurutnya menjadi seorang ibu itu, merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita.

Dia sangat betul, karena dia adalah wanita yang dilahirkan dari rahim seorang pria.

Tidak ada pria atau wanita yang super mulia d
 an super cemerlang dalam sejarah kemanusiaan, yang tidak dilahirkan oleh seorang ibu.

Jika bayi kecil, lucu, harum, dan ceria itu kemudian menjadi seorang profesional atau pebisnis yang cemerlang dan mulia pribadinya; maka langit pun tidak bisa menjadi atap dari tingginya pujian yang terharuskan bagi seorang ibu.

Seorang pria yang mengerti hal ini, akan menghormati wanitanya sebagai keteladanan bagi anak-anaknya dalam menghormati ibu mereka, wanita kecintaannya.

Ciumlah punggung tangan wanita Anda, dan katakanlah dengan penuh kasih.

You’re once, twice, three times a lady.
And, I love you.




CLOSING

Cara terdekat untuk memperbaiki rizki adalah meningkatkan kualitas kasih sayang di keluarga kita.

Dan anjurannya kepada kita adalah untuk selalu menemukan cara-cara baru untuk membahagiakan setiap jiwa di keluarga kita, lalu memperhatikan apa yang terjadi.

Saya ulangi,

Cara terdekat untuk memperbaiki rizki adalah meningkatkan kualitas kasih sayang di keluarga kita.
maka
Bahagiakanlah setiap jiwa di keluarga Anda,
lalu perhatikan apa yang terjadi.






Mario Teguh - Loving you all as always

Selasa, 16 Oktober 2012

Pasangan Tua yang Membuatku Takjub


Hari ini, selepas sholat subuh, aku pergi ke pasar tradisional dengan khadimat setiaku. Kami berangkat pagi-pagi sekali karena dua alasan – lokasi parkir yang enak dan pilihan ikan segar yang lebih banyak. Jadi, di sanalah kami, di pagi buta, berjuang mencari jalan di antara ramainya para pedagang ikan, berusaha mendapatkan ikan terbaik. Satu jam kemudian kami sudah siap untuk memasukan “tangkapan hari ini” ke dalam mobil ketika aku melihat sesuatu yang menyentuh hatiku.

Seorang bapak tua bersama istrinya, keduanya berusia enam puluhan, sedang mendorong gerobak yang sarat di muati sayuran. Aku berjalan menghampiri mereka dan bertanya apakah sayuran itu di jual.

“Ya, nak,” si istri menjawab sambil tersenyum, dengan niat supaya pasangan ini dapat untung lebih cepat dan pulang lebih awal, aku memutuskan untuk membeli sekaligus banyak. Setelah memilih-milih sayuran yang akan ku beli, aku membayar dan mulai berbincang dengan mereka. Sesudah obrolan berjalan lima belas menit, aku tahu bahwa anak-anak mereka sudah dewasa semua, berpendidikan tinggi, dan juga sangat sukses. MASYAALLAH! Aku jadi penasaran.

Jika anak-anak mereka sukses, mengapa mereka harus berat di usia yang setua ini? Apakah mereka di telantarkan? Di mana anak-anak mereka? Apa anak-anak itu tidak melihat betapa kerasnya kehidupan orangtua mereka? Tidakkah mereka merasa bertanggung jawab?

Seolah bisa melihat rentetan pertanyaan dalam kepalaku, bapak tua itu berkata, “Begini, Nak, Bapak dan Istri Bapak ini menanam sayuran sendiri dan sudah berjualan di pasar ini sejak kami masih muda. Dengan cara itulah kami mampu mengirim anak-anak kami ke sekolah perguruan tinggi. Kami tidak kaya, tapi yang kami miliki, cukup untuk kami semua. Setiap suapan yang masuk ke mulut kami di peroleh dari usaha sayuran ini, Alhamdulillah. Jadi, sekarang, meskipun kami hidup berkecukupan dari uang yang di kirim dari anak-anak kami, kami merasa bahwa sepanjang kami masih bisa memperoleh penghasilan yang halal, selayaknyalah kami terus bekerja. Bekerja baik untuk kami, di sarankan oleh agama, dan, selain itu, kami juga butuh olahraga,” katanya sambil terkekeh.

Sewaktu kutanya berapa lama dia berencana terus bekerja, bapak itu berkata ceria, “Sampai Bapak berhenti nafas, Nak—sampai hari Allah mengambil kemampuan bapak bekerja. “

SUBHANALLAH…Aku tak sanggup berkata-kata, hanya kurasakan hangat disudut mataku. Sungguh luar biasa sikap pasangan ini. Mereka benar-benar membuatku TAKJUB. Inilah pertama kalinya dalam hidupku aku melihat orang-orang yang begitu bangga pada pekerjaan mereka dan menolak menerima pemberian, meski punya hak yang sah untuk menerima. SUBHANALLAH!

Sekarang aku betul-betul mengerti apa yang pernah di katakan Seorang bijak:Bekerja adalah cinta yang di wujudkan. Dan jika kau tidak bisa bekerja dengan cinta, tetapi hanya dengan keengganan, lebih baik kau tinggalkan pekerjaanmu dan duduk di gerbang kuil dan menerima derma dari orang-orang yang berkerja dengan gembira.

Dan aku bisa melihat cinta dan kegembiraan bekerja pada wajah pasangan tua ini. Bukan main, tampak jelas betapa mereka mencintai pekerjaan mereka. Mereka bangga masih bisa mencari nafkah walaupun pemberian anak-anak mereka mencukupi. Aku hanya bisa membayangkan keceriaan dan semangat yang tentu mereka rasakan dalam hati, setiap mereka terjaga di pagi hari—pergi ke kebun, mungkin menanam benih baru, atau memetik sayuran segar untuk di bawa ke pasar. Semua itu lakukan dengan cinta dan kebanggaan dalam hati mereka.

Jika bercermin pada pasangan ini, aku bertaruh banyak orang muda yang merasa malu. Orang-orang muda yang selalu mengeluh kalau harus pergi bekerja, yang ingin hidup enak tanpa harus bekerja keras. Orang-orang seperti inilah yang tidak pantas menerima pemberian dan merekalah jenis orang yang berharap dipandang dan dikasihani, itu baru antara lain.

Aku pernah melihat orang-orang, yang berusia jauh lebih muda daripada pasangan ini, yang begitu bencinya bekerja sampai-sampai mereka selalu berusaha mencari celah untuk di salahgunakan dalam kebijakan-kebijakan organisasi mereka. Hal-hal seperti surat dokter lancung dan alasan-alasan palsu selalu mereka gunakan untuk bolos bekerja. Bagi mereka, membodohi majikan adalah kemenangan. Kadang aku bertanya-tanya yang bodoh itu sebenarnya siapa. ASTAGFIRULLAH….

Ibnu Al-Jawzi pernah berkata : Tak pernah aku melihat aib yang lebih menyedihkan dalam masyarakat daripada mereka yang berhenti bekerja padahal mereka sanggup melanjutkan.


sumber : http://www.kisahmotivasi.com

Rabu, 27 Juni 2012

Kisah Inspiratif : MERAJUT CINTA DI BAWAH ANCAMAN KEMATIAN



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Dia ramah dan energik. Begitu memasuki ruang cuci darah, ia sibuk menyapa perawat dan beberapa pasien. Sepintas, dia Iebih mirip seorang pengantar daripada penderita gagal ginjal. Padahal, ia telah memasuki tahun ketujuh, menjalani kehidupan yang tergantung pada mesin cuci darah. 

Selain ceria, secara fisik ia juga nampak segar, bahkan kulitnya pun masih kuning langsat. Boleh dibilang, kondisi seperti itu langka. Proses cuci darah secara terus menerus akan meninggalkan zat-zat tertentu yang menyebabkan kulit menjadi gelap.

Seperti hampir semua pasien lainnya, ia juga stres berat ketika divonis gagal ginjal tujuh tahun silam. “Dua tahun pertama harus cuci darah saya stres, belum bisa menerima kenyataan. Dunia terasa gelap, sempit. Tuhan tidak adil. Saya punya rencana, semua gagal karena sakit. Saya putus asa,” tutur Roslinawati pada Tarbawi.

Ros yang saat itu tinggal di Kalimantan, akhirnya kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta untuk berobat. Ibu dan seluruh keluarga merawat Ros yang saking parahnya hingga ia tidak bisa berjalan, harus rnemakai oksigen 24 jam, dan keluar masuk rumah sakit. Kondisi tak berdaya itu membuat Ros marah pada semuanya, termasuk kepada Tuhan. Ia juga tidak mau bergaul, bahkan kesal bila melihat orang tertawa. “Saya benci pada din sendiri,” ucapnya.

Ros mengungkapkan, kemarahan dan penolakan atas penyakit itu malah memperburuk kondisiriya. Semakin memberontak, ia semakin sakit bahkan bernafas pun menjadi susah. “Saya jenuh, capek dengan pemberontakan yang tidak ada hasilnya. Saya berpikir, ya Allah, saya tidak bisa begini terus,” kenangnya.

Setelah dua tahun dalam peperangan melawan kenyataan, akhirnya Roslinawati sampal pada tahap penerimaan. Shalat tahajud dan membaca Al Qur’an menjadi kalalisator kesadarannya. 

Pada Al Qur’an ia menemukan ayat yang menyatakan, Allah tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan. 

Pada shalat Tahajud ia menemukan ketenangan dan keyakinan, Allah yang paling tahu apa yang terbaik bagi umat-Nya, meski di mata manusia itu terlihat buruk. “Saya berusaha ikhlas. Sernakin jauh dan Allah, saya makin tersiksa. Ketika sudah pasrah ternyata saya menjadi tenang,” ujar-nya.

Kepasrahan itu kemudian membuka kesadaran-kesadaran lanjutan dalam diri Roslinawati. Ia merasa tidak enak telah merepotkan seluruh keluarga terutama ibunya. Apalagi adiknya menceritakan, ibunya sering menangis tanpa sepengetahuan Ros, sebab bila ia tahu, ibunya takut Ros menjadi makin sedih. 

Semua itu membuat Ros merasa bersalah. “Saya minta maaf dan bertanya, apa yang bisa membahagiakan Ibu. Saya sakit, tidak bisa memberi apa-apa lagi. lbu bilang, yang bisa membahagiakan Ibu kalau kamu sehat Itu saja,” kenangnya.

Sejak itu Roslinawati berjuang untuk sehat. Sempat juga Ia shock ketika pertama kali bercerrnin setelah dua tahun tidak berdandan. Di cermin itu, ia melihat badannya begitu kurus, kering, dan tua bagaikan nenek-nenek, hingga Ia sendiri pun menjerit kaget. Lagi-lagi, sang Ibu yang begitu tegar dan penuh cinta
meyakinkannya. Tidak apa-apa, asal pikiran sehat, badan juga akan sehat.

Langkah pertama berjuang untuk sehat dan mandiri Ia wujudkan dengan berangkat ke tempat cuci darah sendirian. Ros yang semula harus diantar mobil bahkan digotong kini memilih naik ojek. “Saya yakin kalau berjalan untuk kebaikan pasti Tuhan mehndungi. Di jalan istighfar terus, alhamdulillah sampai tujuan,” ujarnya.

Ros yang absen cukup lama dan kantornya pun kembali bekerja. Saking takutnya kalau sakit dan jatuh di jalanan, awalnya Ros membawa pembantu yang disuruhnya menunggu di lobby hingga saat pulang tiba. Pelan-pelan, semangat hidup mulai tumbuh, dan seiring dengan itu, tubuhnya makin sehat. Hati dan jiwanya mulai dipenuhi penerimaan dan keikhlasan, termasuk kesabaran melepas suami untuk wanita lain, karena lelaki yang telah memberinya dua putra itu tidak tahan hidup bersama istn yang sakit-sakitan.

Sejak itu, Ros mulai menata hidup dalam kesendinan dan tak sedetik pun terpikir untuk menikah lagi. Ia membangun ketenangan, selain dengan mendekatkan diri pada Allah, juga dengan melepaskan ambisi dan target yang dulu memenuhi angannya. Ia sadar, kini ia hidup dalam keterbatasan.

Satu-satunya target yang masih tersisa hanyalah menjalani hidup tanpa menyusahkan orang lain dan sebisa mungkin berguna di dunia ini. “Saya ingin di sisa hidup ini mendapatkan ketenangan lahir batin. Yang saya pikirkan hanya yang saya butuhkan. Selama Tuhan masih membeni nafas, saya harus tetap hidup yang sehidup-hidupnya, bukan hidup tapi mati. Hidup yang bermakna. Saya sakit tapi jiwa saya sehat,” tuturnya.

Acara. rutin cuci darah akhimya menjadi medan pertemuan Ros dengan Sigit Wismonugroho, lelaki yang kini menjadi suaminya. “Saya kenal karena cuci darah, sening bertemu. Tapi berpikir ke arah menikah awalnya merasa tidak mungkin karena kami sama-sama sakit. Orang sakit seperti saya, apa ada yang mau,” ujarnya.

Pertemuan demi pertemuan lama-lama mendekatkan keduanya. Mulai dan pertemuan di tempat cuci darah, ketika tanpa sengaja mereka mendapat tempat cuci darah yang bersebelahan, ikut seminar tentang ginjal, hingga menghadiri pernikahan suster yang merawat pasien gagal ginjal. Kedekatan kian erat ketika Sigit dirawat di rumah sakit dan Ros menengoknya. Sigit yang sendiriari karena baru saja ditinggal ibunya meninggal, mengundang iba dan sayang di hati Ros.

Saling berbagi cerita, akhimya kedua insan yang sama-sama pernah ditinggalkan pasangannya yang sehat ketika mereka divonis gagal ginjal itu merasa ingin membina hubungan lebih serius. Ros mengakui, awalnya belum saling jatuh cinta. Yang ada hanya rasa saling membutuhkan teman hidup. “Kalau Tuhan memberikan jodoh, tolong berikan yang terbaik. Saya tidak memilih, pokoknya yang terbaik di mata Allah,” ujarnya.

Niat kedua sejoli yang sama-sama sakit itu awalnya menimbulkan penolakan keluanga. “Orang sudah sakit, mengurus diri sendiri saja susah apalagi harus mengurus pasangannya, begitu kata keluarga saya,” ujar Ros. 

Di pihak keluarga Sigit pun, penolakan keluarga atas rencana pernikahan itu juga cukup serius. Sesungguhnya tidak masalah bila Sigit yang menduda itu ingin menikah, tapi mereka ingin Sigit mendapatkan mempelai yang sehat sehingga mampu merawat dirinya kelak. “Sigit bilang, orang sehat tidak ada yang mau sama dia. Justru karena sama-sama sakit, kami berdua saling mengerti,” paparnya.

Baik Ros maupun Sigit menyatakan, mereka berdua justru takut membina cinta dengan orang sehat. Rasa sakit ketika suami meninggalkan Ros dan pedih ketika istri meninggalkan Sigit masih segar dalam ingatan hingga keduanya khawatir, jangan-jangan orang sehat akan kernbali menyakiti hati mereka. Penolakan tak menghentikan langkah Sigit dan Ros menuju pelaminan. “Kalau memang dia jodoh saya, pasti perkawinan itu akan ada. Saya bilang, saya punya Tuhan yang akan melindungi asal niatnya karena Allah bukan karena nafsu saja. Saya tidak takut, saya jalani saja. Niat saya ibadah. Saya menolong suami yang sakit, suami bisa menolong saya yang sakitt tandas Ros.

Bagaimana pun, bila Tuhan berkehendak tak seorang pun dapat menahannya. Pemikahan yang awalnya mustahil bagi keduanya, akhirnya terlaksana, Ros menyatakan, ia bangga menikah dengan Sigit, lelaki yang menurut Ros sangat tabah menjalani cuci darah selama 14 tahun. “Yang paling saya cintai dan dia, semangat hidupnya, kesabarannya. Dia sakit, ditinggalkan istri, namun dia tetap bisa hidup mandiri, tetap bekerja, bahkan mampu merawat ibunya hingga meninggal dunia. Dia pasrah dan tenang menghadapi semuanya” ujar Ros.

Sigit mengakui, boleh dibilang keputusannya untuk menikahi Ros memang tindakan gila. “Kakak saya tidak setuju. Nanti kalau dua-duanya sakit bagaimana,” ujamya. Ia menceritakan, vonis gagal ginjal diterimanya ketika pernikahan dengan istn pertama baru sekitar empat bulan.

Seperti Ros, Ia pun sempat stres berat saat divonis harus cuci darah seumur hidup. “Saya belum bisa menerima. Setelah diberitahu, saya pulang. Cuaca sedang panas terik. Tapi saya kedinginan. Gemetar. Hidup sedang di puncak semangat. Baru saja menikah. Cita-cita sedang tinggi. Ketika divonis semua angan ambruk,” kenangnya.

Ketika sikap istrinya lama-lama berubah, dan akhirnya minta cerai, Sigit segera menyetujuinya karena sadar, sejak sakit memang ia tidak bisa mengimbangi keinginan istri. “Perawat bilang istri datang membawa laki-laki. Saya tanya, katanya tidak ada apa-apa. Tiga tahun kemudian dia minta cerai. Danipada saya dibohongin sakit hati, lebih cerai, jadi tidak kepikiran,” ucap-nya.

Sejak itu, Sigit mengerahkan segala daya untuk hidup mandiri, tentu dengan keterbatasan. Menikah lagi sama sekali tidak ada dalam benaknya. Saat itu, mengenang pernikahan identik dengan mengenang rasa disakiti orang yang dicintainya. Tapi Sigit tidak bisa mengelak dan kenormalannya sebagai lelaki. Sakit tidak mengikis habis kebutuhan untuk merniliki teman hidup, teman berbagi rasa.

Karenanya ia masih berharap, kalau ada orang mencintainya dia akan membalas cinta itu. “Temyata yang datang dalam hidup saya dia,” tutumya sambil menunjuk Ros.

Sigit yang fungsi ginjalnya tinggal sembilan persen itu mengenang, awalnya dia hanya merasa kasihan melihat Ros yang di awal pertemuan di tempat cuci darah terlihat kurus dan sakit parah. “Tahu-tahu bersebelahan waktu cuci darah. Tapi cuma sebentar. Terus seminar. Selesai acara, dia tidak langsung tapi ikut seminar sebuah MLM. Saya bilang, “ngapain sih, sudah mau mati masih ikut MLM. Itu hanya untuk orang sehat. Dia marah-marah” kata Sigit sambil tertawa terbahak-bahak.

Wajahnya terlihat bersinar dan geli ketika menceritakan Ros yang seolah tidak mau pulang kalau sedang menjenguknya di rumah sakit. Usut punya usut, temyata selain menengok karena simpati, Ros juga gencar memasarkan produk MLM yang diikutinya. ‘Saya dirayu beli produk pelembab kaki. Katanya, orang cuci darah kan kulitnya akan menghitam, makanya pakai produk jualannya supaya putih. Saya beli karena kasihan. Padahal dia sendiri pakai produk lain yang lebih murah,” tutur Sigit. lagi-lagi dengan tawa berderai.

Percaya diri dan gencar menawarkan dagangan, Ros yang di mata Sigit tergolong perempuan bernyali besar dan bermental baja itu, ketika hendak pulang mengaku tidak punya uang. Sambil tertawa, Sigit mengatakan Ia sering memberikan Ros ongkos untuk pulang.

Sigit mengungkapkan, ia menikah karena ingin hidup secara normal. Menurutnya, hidup sendiri itu tidak enak. Meski setelah menikah tanggungjawabnya lebih besar, karena kini ada seorang istri yang harus dilindungi serta frekuensi sakit yang kian sering karena keduanya bergantian diopname, tapi bagaimana pun Sigit merasa, pernikahan membuat hidupnya jauh lebih bahagia dan penuh warna. Kehadiran istri menjadi karunia besar dalam hidupnya. “Kalau sakit ada tempat mengeluh. Sekadar begitu saja sudah sangat membahagiakan,” uarnya.

Meski sesungguhnya ada juga keinginan di hati.Sigit untuk memiliki keturunan dan darah dagingnya sendiri, tapi ia sadar, memiliki anak dalam kondisi seperti Ini tidak rasional karena kehamilan akan memperburuk kesehatan Ros.

Sadar hidup tak akan lama, Sigit yang fungsi jantungnya 70 persen dan Ros yang fungsi jantungnya tinggal 54 persen berkomitmen untuk tidak bertengkar karena hal itu hanya akan menyakiti dan membebani hidup yang mungkin tinggal sebentar saja.

Sigit dan Ros merasakan, betapa jauh lebih bahagianya pemikahan saat ini dibanding yang sebelumnya. Kondisi tubuh yang menurut perhitungan medis memang akan terus melemah justru memacu rnereka untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan seindah-indahnya. Berusaha menyempatkan waktu untuk selalu berduaan, bahkan saat cuci darah pun rnereka berusaha mendapat tempat tidur berdampingan. Sigit mengatakan, tiap han mereka seperti orang berpacaran. 

Menjalani hidup tanpa pertengkaran, saling cinta, saling merawat, dan lebih dan itu, mereka tidak lagi memiliki ambisi dan keinginan muluk, selain hanya ingin menyelesaikan hidup di dunia tanpa menyusahkan orang lain.

“Setelah menikah, tidak pernah berpikir soal rencana ke depan karena sadar umur kami tidak akan lama. Cuma kita tidak tahu kapan tapi pasti tidak lama,” ujar Sigit yang kini jari-jari tangannya mulai melemah, tulang mulai kaku sehingga kalau shalat terpaksa harus duduk.

Membicarakan kematian, bagi pasangan ini bukan hal tabu. Ros berkali-kali mengucapkan, meski dia hampir terbiasa melihat pasien gagal ginjal meninggal dunia, tapi ia merasa tidak bisa hidup lagi kalau tiba giliran Sigit untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Namun Sigit yang nampak lebih rasional mengatakan, hidup harus terus dijalani, meski tentu sangat berat, kalau Ros yang pergi mendahuluinya. Bagaimana pun, toh Ia tidak bisa rneminta atau menunda kematian.

Kesadaran akan kian melemahnya tubuh, dan ancaman kematian yang terus membayangi hidup tak berarti mereka bercucuran air mata setiap waktu Bagi Ros, mencintai suami memberikannya kekuatan, memberinya kepercayaan. “Saya harus kuat karena saya cinta dia, saya ingin menolong dia. Ketika saya lemah saya merasa dicintai dan itu membuat saya percaya diri. Kami mencintai kelemahan masing-masing. Jadi tidak ada saling menyalahkan atau penyesalan. Yang timbul hanya rasa kasih dan sayang,” tutur Ros.

Kini Ros dan Sigit terus berusaha menjalani hidupnya dalam ketenangan. Pernikahan yang diterima sebagai karunia besar, berusaha mereka nikmati dan syukuri. Mereka saling mencintai nyaris tanpa tuntutan, ambisi, atau angan yang muluk, yang biasanya menjadi milik orang yang sehat dan juga menjadi sumber kegelisahan hidup.

Setengah bercanda, Sigit menyatakan. kini ia dan istnnya hanya ingin bersenang-senang. Menikmati honey moon di Bali atau Yogyakarta adalah satu-satunya keinginan yang masih ada dl hatinya, namun ia tidak tahu kapan terlaksana. “Hidup bersama dia sangat nyaman,” ucap Sigit lirih.

Kesadaran Sigit dan Ros menyongsong kematian, justru menyebabkan mereka sungguh-sungguh menghargai waktu, kehidupan, dan cinta kasih pasangan. Mencurahkan kasih dan perhatian selagi bisa, serta masih diberi kesempatan, dengan kualitas maksimal serta melepaskan hal sia-sia yang merusak ketenangan jiwa.

Gagal ginjal yang telah bertahun-tahun diderita bagaikan alarm yang terus menerus mendentangkan peringatan akan dekatnya kematian. Dan sepasang kekasih itu saling mengikatkan hati untuk menantinya dengan segenap doa dan keikhlasan.

~ o ~


copas dari : http://www.facebook.com/pages/Strawberry/327342750179